Tuesday, January 4, 2011

الدار السلام

KONSEP JANNAH (SURGA) DALAM AL-QURAN
(Kajian Tafsir Bayani)

A. Pendahuluan
Surga sebagai ganjaran bagi orang yang berbuat baik kelak di akhirat adalah sebuah persoalan eskatologis atau masalah gaib. Tidak seorang yang bisa mengklaim dirinya bahwa dia bisa mengetahui persoalan gaib kecuali hanya bersifat ramalan. Hanya Allah jua satu satunya yang mampu mengetahui persoalan gaib secara akurat. Masalah surga hanya dapat diketahui melalui kitab suci yang notabene firman Allah. Dalam Al-Quran dan hadits Rasulullah dikatakan sebagai berikut:
فلا تعلم نفس ما أخفي لهم من قرة أعين جزاء بما كانوا يعملون[1]
… فيها ما لا عين رأت ولا أذن سمعت ولا خطر على قلب بشر[2]
Artinya: “…Di dalam surga terdapat sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan tak pernah terbayang di benak manusia”
Pemahaman penulis tentang surga berbeda dengan para mufassir sebelumnya yang lebih cenderung memahami surga seperti apa yang tersurat dalam al-Qur’an. Namun bukan berarti bahwa pemahaman saya ini mutlak benar tetapi relatif sebagaimana relatifnya penafsiran ulama-ulama terdahulu. Yang paling mengetahui maksud Al-Qur’an tentulah Allah sendiri, kita manusia hanya menerka maksud Allah
Dalam makalah ini penulis berusaha menelusuri semua ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang berbicara tetang surga kemudian menganalisisnya melalui pendekatan sastra arab atau yang lazim disebut dengan tafsir bayani. Metode tafsir bayani inilah yang menjadi cikal bakal tafsir maudui yang sedang menjadi trend di kalangan mufassir atau di lembaga-lembaga yang mempelajari Al-Qur’an. Adapun hadis-hadis yang berbicara tentang surga penulis agak mengabaikannya mengingat hadis-hadis cukup problematis dari segi validitas.
B. Defenisi Jannah
Kata jannah secara etimologis berasal dari جن (janna) yang berarti الستر (penutup atau tertutup). Dengan demikian jannah yang dituju oleh orang muslim sebagai ganjaran di akhirat masih tertutup (tersembunyi) hari ini. Kata jannah juga berarti البستان (kebun, taman) karena tanahnya tertutup oleh oleh pohon-pohon[3]. Dari kata janna pula muncul kata جِنَّة (jinnah, sekelompok jin) dan جنين (janin) yang keduanya bersifat tersembunyi atau tertutup, demikian pula جن (jin, mahluk yang tersembunyi), مجنون (gila, yang tertutup akal sehatnya atau kerasukan jin) dan جُنَّة (junnah, perisai yang melidungi (menutupi) diri dari serangan lawan)[4] sehingga surga seperti taman yang tersembunyi di balik perisai atau tirai dimana setiap orang bahkan mahluk haluspun tergila-gila padanya.
Kata jannah dengan seluruh kata yang seakar dengannya terulang sebanyak 201 kali, sementara lafal jannah sendiri terulang 144 kali; 87 kali di surah makkiyah dan 57 kali di surah madaniyah; 68 dalam bentuk mufrad, 7 dalam bentuk mutsanna dan 69 dalam bentuk jamak.[5] Kata jannah dalam al-Quran memiliki dua arti yaitu kebun dan surga. Jannah yang berarti kebun terulang sebanyak 25 kali pada 20 ayat yang tersebar di 12 surah; 10 surah makkiyah dan 2 surah madaniyah. Ayat-ayat tersebut antara lain sebagai berikut:
1. ومثل الذين ينفقون أموالهم ابتغاء مرضاة الله وتثبيتا من أنفسهم كمثل جنة بربوة أصابها وابل فآتت أكلها ضعفين فإن لم يصبها وابل فطل والله بما تعملون بصير[6]
2. وهو الذي أنزل من السماء ماء فأخرجنا به نبات كل شيء فأخرجنا منه خضرا نخرج منه حبا متراكبا ومن النخل من طلعها قنوان دانية وجنات من أعناب والزيتون والرمان …[7]
3. وهو الذي أنشأ جنات معروشات وغير معروشات والنخل والزرع مختلفا أكله والزيتون …[8]
4. وفي الأرض قطع متجاورات وجنات من أعناب وزرع ونخيل صنوان وغير صنوان …[9]
5. كلتا الجنتين ءاتت أكلها ولم تظلم منه شيئا وفجرنا خلالهما نهرا[10]
6. فأعرضوا فأرسلنا عليهم سيل العرم وبدلناهم بجنتيهم جنتين ذواتي أكل خمط …[11]
Sementara 119 kata jannah yang lainnya dapat diartikan surga[12]. Ayat-ayat tersebut antara lain:
1. وبشر الذين ءامنوا وعملوا الصالحات أن لهم جنات تجري من تحتها الأنهار كلما رزقوا منها من ثمرة رزقا قالوا هذا الذي رزقنا من قبل وأتوا به متشابها ولهم فيها أزواج مطهرة… [13]
2. والذين ءامنوا وعملوا الصالحات أولئك أصحاب الجنة هم فيها خالدون[14]
3. وقالوا لن يدخل الجنة إلا من كان هودا أو نصارى تلك أمانيهم قل هاتوا برهانكم…[15]
4. وسارعوا إلى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السموات والأرض أعدت للمتقين[16]
5. ونادى أصحاب الجنة أصحاب النار أن قد وجدنا ما وعدنا ربنا حقا فهل وجدتم ما وعد ربكم حقا قالوا نعم فأذن مؤذن بينهم أن لعنة الله على الظالمين[17]
6. وأدخل الذين ءامنوا وعملوا الصالحات جنات تجري من تحتها الأنهار خالدين فيها بإذن ربهم تحيتهم فيها سلام[18]
Terlihat pada ayat-ayat diatas bahwa gambaran jannah yang berarti kebun dan yang berarti surga hampir tidak dapat dibedakan kecuali dengan melihat konteks pembicaraan. Demikian pula arti jannah sebagai kebun dan surga pada surah makkiyah dan madaniyah digunakan kedua-duanya, hanya saja arti jannah sebagai kebun lebih banyak digunakan pada surah makkiyah.
C. Nama-nama Surga
Ganjaran bagi orang-orang beriman di akhirat tidak selalu dinamakan jannah tetapi juga dengan nama-nama sebagai berikut:[19]
1. الذي أحلنا دار المقامة من فضله لا يمسنا فيها نصب ولا يمسنا فيها لغوب[20]
Dār al-muqāmah, dikatakan demikian karena para penghuninya tinggal selamanya di dalam dan tidak keluar lagi
2. إن المتقين في مقام أمين[21]
Maqām amīn: tempat atau keadaan aman dari segala gangguan
3. أما الذين ءامنوا وعملوا الصالحات فلهم جنات المأوى نزلا بما كانوا يعملون[22]
Jannāt al-ma’wā: taman kediaman, secara harfiah ma’wā berarti tempat berlindung
4. جنات عدن مفتحة لهم الأبواب[23]
Jannāt ‘adn: taman tempat tinggal
5. إن الذين ءامنوا وعملوا الصالحات لهم جنات النعيم[24]
Jannāt al-naīm: taman kenikmatan
6. لهم دار السلام عند ربهم وهو وليهم بما كانوا يعملون[25]
Dār al-salām: tempat yang aman dan damai
7. الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ[26]
Al-firdaus: taman firdaus yang dalam bahasa Inggris disebut paradise
8. قُلْ أَذَلِكَ خَيْرٌ أَمْ جَنَّةُ الْخُلْدِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ كَانَتْ لَهُمْ جَزَاء وَمَصِيرًا[27]
Jannāt al-khuld: Taman kekekalan
9. وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُواْ أَنَّ لَهُمْ قَدَمَ صِدْقٍ عِندَ رَبِّهِمْ قَالَ الْكَافِرُونَ إِنَّ هَـذَا لَسَاحِرٌ مُّبِين[28]
Qadam shidq: kemuliaan dan tempat yang tinggi[29]
Keragaman nama-nama surga ini menunjukkan bahwa Tuhan begitu “ingin” mendekatkan arti surga kepada seluruh lapisan manusia. Hanya saja gambaran yang paling konkret dan paling mudah ditangkap adalah ketika menggambarkan surga dengan kata jannah, sehingga wajar jika pemakaian kata jannah lebih mendominasi kata yang lainnya. Keragaman ini bisa pula ditafsirkan sebagai sifat sifat surga.
D. Gambaran dan Fasilitas Surga
1. Luas surga seperti luasnya seluruh langit dan bumi, namun dapat pula dipahami makna luas disini berarti rasa lapang yang tak terterhingga
· وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ[30]
2. Sungai-sungai di surga terdiri dari sungai air, susu, khamar dan madu
· مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمتقونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِّن مَّاء غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِن لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِْ…[31]
3. Istana dan tempat tinggal, guraf berarti sekat-sekat atau sejenis apartemen sedangkan masākin dari kata sakana yang berarti tinggal dan tenang sehingga masākin adalah tempat tinggal yang penuh ketenangan. Dalam hadis ada juga kata bait (tempat berlindung di waktu malam)[32]
· لَكِنِ الذين اتَّقوا ربَّهم لَهُمْ غُرفٌ مِنْ فَوْقِهَا غُرَفٌ مبنيَّة ٌ تجري مِنْ تَحتِهاَ…ا[33]
· يغفر لكم ذنوبكم ويدخلكم جنات تجري من تحتها الأنهار ومساكن طيبة في جنات عدن…[34]
4. Furniture surga antara lain furusy jamak dari kata firāsy berarti permadani, surur jamak dari kata sarīr yang sering diartikan ranjang. Pada kata surur tersirat kata sirr (rahasia) dan surūr (kegembiraan)
· متَّكِئِينَ فِيها على فُرُشٍ بَطَائِنُها مِنْ اسْتَبْرَقْ[35]
· متكئين على سرر مصفوفة وزوجناهم بحور عين[36]
· يطاف عليهم بصحاف من ذهب وأكواب وفيها ما تشتهيه الأنفس وتلذ الأعين…[37]
· و َيُطَافُ عَلَيْهِم بِآنِيَةٍ مِّن فِضَّةٍ وَأَكْوَابٍ كَانَتْ قَوَارِيرَاً[38]
· هم وأزواجهم في ظلال على الأرائك متكئون[39]
5. Menu Surga yang antara lain adalah buah-buahan yang mirip dengan yang pernah didapatkan didunia, daging burung dan minuman yang bercampur jahe
· …كُلَّمَا رُزِقُواْ مِنْهَا مِن ثَمَرَةٍ رِّزْقاً قَالُواْ هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِن قَبْلُ وَأُتُواْ بِهِ مُتَشَابِهاً…[40]
· وفاكهةٍ ممَّا يتخيَّرون * ولحمُ طيرٍ ممَّا يشْتهون[41]
· وفاكهة كثيرة * لامقطوعة ولاممنوعة[42]
· ويسقون فيها كأسا كان مزاجها زنجبيلا * عينا فيها تسمى سلسبيلا[43]
6. Wanita atau pasangan di surga, hūr ‘īn adalah pasangan netral bisa perempuan bisa pula laki-laki, kata hūr seakar dengan kata hawāriyūn (teman setia nabi Isa) dan kata hiwār (bercakap-cakap), dengan demikian dapat diartikan sebagai pasangan setia dan teman bercakap-cakap. Sementara kata qāshirāt al-tharaf berarti wanita yang pandangannya terbatas pada pasanganya dan tidak suka melirik yang lain alias wanita setia
· وحور عين * كأمثال اللؤلؤ المكنون[44]
· وعندهم قاصرات الطرف أتراب[45]
· وعندهم قاصرات الطرف عين * كأنَّهُنََّ بَيضٌ مَكْنونْ[46]
· فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلاَ جَآنٌّ[47]
7. Pelayan Surga, adalah semacam pelayan restaurant yang mengedarkan minuman
· يطوف عليهم ولدان ٌ مخلدون * بأكوابٍ و أباريق وكأس ٍ من معين[48]
· ويطوف عليهم غلمان ٌ كأنَّهم لؤلؤ مكنون[49]
8. Pakaian dan Perhiasan, diantara perhiasan surga adalah sutra halus dan tebal dan gelang yang merupakan simbol-simbol kemewahan
· عَالِيَهُمْ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضْرٌ وَإِسْتَبْرَقٌ وَحُلُّوا أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٍ وَسَقَاهُمْ رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا[50]
E. Pewaris Surga[51]
1. Taubat
· إلا من تاب وآمن وعمل صالحا فأولئك يدخلون الجنة ولا يظلمون شيئا[52]
2. Taat Kepada Allah dan Rasul
· ومن يطع الله ورسوله يدخله جنات تجري من تحتها الأنهار و من يتولى يعذبه عذاباً أليما[53]
3. Iman dan Amal Shaleh
· ومن يعمل من الصالحات من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فأولئك يدخلون الجنة[54]
4. Taqwa
· تلك الجنة التي نورث من عبادنا من كان تقيا
5. Sabar
· وجزاهم بما صبروا جنة وحريرا[55]
6. Jihad māl dan nafs
· إِنَّ اللّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُون[56]َ
7. Takut kepada Allah dan menahan nafsu
· وأما من خاف مقام ربه ونهى النفس عن الهوى * فإن الجنة هي المأوى[57]
8. Istiqamah
· إن الذين قالوا ربنا الله ثم استقاموا تتنزل عليهم الملائكة ألا تخافوا ولا تحزنوا و أبشروا بالجنة التي كنتم توعدون[58]
F. Surga Nabi Adam
Dalam surah al-Baqarah terdapat ayat sebagai berikut:
وقلنا ياآدم اسكن أنت وزوجك الجنة وكلا منها رغدا حيث شئتما ولا تقربا هذه الشجرة فتكونا من الظالمين* فأزلهما الشيطان عنها فأخرجهما مما كانا فيه وقلنا اهبطوا بعضكم لبعض عدو ولكم في الأرض مستقر ومتاع إلى حين[59]
Pada umumnya ulama memaknai jannah pada ayat tersebut dengan jannat al-samā’ (surga langit yang dijanjikan) dan bukan sekedar taman yang ada didunia atau jannat al-ardh. Mereka memahami kata “اهبطوا “ pada ayat tersebut dengan “turun dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah”. Demikian pula pemakaian artikel “ال” pada kata “الجنة” membatasi kata tersebut menjadi jannah yang ada di langit. Ulama yang lain menganggap bahwa jannah yang dimaksud adalah sebuah taman yang ada didunia. Adapun kata ” اهبطوا” tidak mesti diartikan dengan “turun” tapi dapat pula dipahami dengan “berpindah kesuatu tempat” misalnya dalam Al-Quran QS. 2:61 terdapat ayat yang berbunyi ” اهبطوا مصرا “ (pergilah kalian ke sebuah kota).[60]
Menurut Muhammad Abduh “Terjadi kemusykilan jika memahami surga Nabi Adam dengan surga yang ada di langit. Kemusykilan tersebut: (1). Allah menciptakan Adam dan keturunannya sebagai khalifah di bumi dan bukan karena hukuman sehingga berada di bumi. (2). Tidak disebutkan bahwa setelah Adam diciptakan, dia diangkat ke langit. (3). Surga adalah tempat bagi orang bertakwa, bukan untuk si kafir Iblis, (4). Di surga tidak ada lagi taklīf, (5). Di surga tidak ada larangan untuk bersenang-senang, (6). Di surga tidak ada kedurhakaan.”[61]
Penulis sendiri memahami bahwa kata اهبطوا tetap diartikan dengan “turun” tetapi tidak mesti turun dari langit. Kata turun dapat pula berarti turun dari bukit atau tempat yang lebih tinggi dari dari sekitarnya. Ketika Nabi Nuh diperintahkan untuk turun dari perahunya dikatakan قيل يانوح اهبط بسلام .[62]Lebih jauh lagi bahwa kisah nabi Adam adalah kisah simbolik tentang drama kehidupan. Nabi Adam bukanlah person nabi Adam tetapi manusia keseluruhan. Malaikat dan iblis adalah simbol bahwa manusia memiliki potensi kebaikan dan kejahatan.[63] Kisah itu juga melambangkan betapa tinggi posisi manusia di bandingkan makhluk yang lain. Manusia dalam hirarki menempati posisi kedua setelah Tuhan. Mungkin itu pula hikmahnya mengapa manusia dilarang berbuat syirik karena akan merendahkan derajat manusia itu sendiri.
G. Hakekat Surga
Para Nabi dan Rasul diutus untuk membimbing manusia kepada jalan yang benar. Penunjukan seseorang untuk menjadi Rasul tentu bukanlah penunjukan secara semberono. Para Nabi telah dibekali oleh Allah dengan ilmu, kematangan dan kemampuan khusus untuk bisa menyampaikan risalahnya agar bisa diterima oleh kaumnya. Jaman Arab sebelum Islam digambarkan sebagai jaman jahiliyah, jaman kebodohan. Kebodohan disini bukanlah karena pada waktu itu tidak ada orang pintar, tetapi lebih disebabkan karena perilaku mereka yang telalu memperturutkan hawa nafsunya, mengumbar syahwat semaunya, sehingga nilai-nilai kemanusiaan jatuh pada titik terendah. Mereka menganggap bahwa tidak ada lagi kehidupan setelah kehidupan dunia sehingga mereka dengan bebas berbuat seenak perutnya karena tidak memeliki konsekwensi apapun kecuali di dunia ini sendiri. Wanita pada masa jahiliah tidak lebih dari pemuas nafsu sex belaka, mereka tak ubahnya benda yang dapat perjualbelikan dan pertukarkan. Bahkan lebih sadis lagi para bayi wanita sering dikubur hidup-hidup karena dianggap aib ketika memiliki anak perempuan. Merekapun sebenarnya percaya kepada Tuhan yang memiliki kekuatan diluar dirinya tetapi salah dalam mengidentifikasi Tuhan.
Nabi Muhammad datang membawa petunjuk Allah, sesuai dengan alam pikiran dan budaya pada masa itu atau dalam bahasa Al-Quran dikatakan dengan bilisāni qaumihi,[64] sehingga pesan Allah dapat menarik hati mereka dan merekapun mau melaksanakannya. Illustrasi surga –sebagai ganjaran jika mengikuti pesan Allah– dengan taman yang indah dan dipenuhi oleh kemewahan dan wanita cantik dapat diterima oleh alam pikiran mereka tentang keindahan dan kenikmatan, karena memang hakekat surga adalah keindahan dan kenikmatan tanpa batas. Dengan perlahan merekapun dapat digiring untuk menerima dan mengikuti petunjuk Tuhan, sehingga menjadi manusia yg beradab; kemudian ditanamkan di hati mereka kecintaan kepada Tuhan, dan kasih sayang terhadap sesama manusia. Dan ketika cinta kepada kepada Allah telah terpatri maka tidak ada lagi yang diinginkan kecuali kembali kepada-Nya. Seperti halnya Rabiah al-Adawiyah yang tak menginginkan lagi surga bahkan ingin membakarnya.
Surga meskipun itu dikatakan sebagai ganjaran atas perbuatan baik, tidaklah pantas dijadikan tujuan beribadah. Tanpa surga sekalipun, Tuhan memang layak untuk disembah, meskipun Tuhan tidak butuh disembah. Dialah yang menciptakan segala alam dengan segala keteraturannya, sebagai bukti keberadaa-Nya. Tujuan utama umat manusia beribadah kepada Tuhan bukanlah untuk mendapat pahala guna mencapai surga tetapi untuk mencari ridha Tuhan. Surga hanyalah efek samping dari proses tersebut.
Menurut Ibn al-Qayyim “Sesungguhnya hal terbaik di surga adalah kedekatan dengan-Nya, memandang-Nya, mendengar ucapan-Nya dan keridhaan-Nya. Benar! kerinduan terhadap makanan, minuman dan bidadari di surga merupakan sebuah kekurangan yang sangat apabila dibandingkan dengan kerinduan para pecinta Allah. Bahkan, keduanya sama sekali tidak dapat dibandingkan”[65].
Manusia adalah ciptaan Allah yang paling mulia. Di atas manusia hanya Allah swt. Surga –jika seandainya berbentuk fisik– hanyalah salah satu ciptaan Allah yang pada hakekatnya lebih rendah dari manusia. Itulah sebabnya mengapa Allah sangat mengutuk perbuaan syirik karena itu akan merendahkan derajat manusia itu sendiri. Tidaklah pantas bagi manusia merindukan sesuatu yang lebih rendah darinya di akhirat selain Allah. Dengan demikian surga sebenarnya hanyalah keadaan; suatu keadaan yang sangat indah dan memuaskan. Gambaran fisikal tentang surga hanyalah sebuah perumpamaan begitu indahnya hidup di dekapan Tuhan. Dalam ayat sebagai berikut dikatakan:
· مثل الجنة التي وعد المتقون تجري من تحتها الأنهار أكلها دائم وظلها..[66]
· مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمتقونَ فِيهَا أَنْهَارٌ…[67]
Kedua ayat diatas menyatakan bahasa pelukisan surga secara fisikal hanyalah perumpamaan atau amtsāl dalam istilah Ulumul Qur’an, majāz dalam istilah balagah, atau tanda dalam istilah semiotika.[68]Tidak dapat dipungkiri bahwa illustrasi jannah “Arab bangat” atau sangat sesuai dengan alam pikiran dan kondisi sosial Arab atau –meminjam istilah balaghah– muthābaqah li muqtadhā al-hāl. Memiliki kebun yang sejuk dan luas, rindang dan dipenuhi aneka macam buah serta gemercik air sungai merupakan obsesi terindah di tengah gurun pasir yang tandus dan panas. Jika seandainya Al-Quran turun pada orang Eskimo, maka mungkin akan lain lagi gambarannya. Surga mungkin digambarkan sebagai tempat yang hangat bahkan panas dan penuhi oleh matahari mengingat daerah mereka yang bersalju.
Karena surga hanyalah simbol kenikmatan, maka yang dibangkitkan di akhirat kelak bukanlah tubuh tetapi roh manusia. Roh tidak mengenal lagi gender, tidak mengenal laki laki, perempuan maupun setengah laki-laki, ini pula menepis tuduhan orang yang mengatakan bahwa surga orang Islam bias gender. Kemudian puncak kenikmatan surga adalah bersatu kembali dengan Sang Pencipta.
H. Penutup
1. Penamaan surga dengan jannah tidak bisa dilepaskan dengan kondisi geografis Arab yang tandus dan gersang. Konon obsesi terindah orang arab adalah memiliki kebun yang rindang oleh pohon dan buah-buahan. Kata jannah hanyalah salah satu dari sekian nama surga yang ada dalam Al-Quran, namun karena kata jannah inilah yang paling banyak di pakai sehingga surga selalu diidentikkan dengannya.
2. Arab pra Islam dikenal akan kepiawainnya dalam sastra, bahkan dikatakan di dunia ini tidak ada bangsa yang paling menggandrungi sastra ketika itu selain bangsa Arab. Al-Quran pun datang dengan segala ketinggian sastranya, termasuk pemakaian kata-kata metaforis. Salah satu obyek bahasa metefora atau majāz Al-Quran adalah ketika berbicara tentang surga. Surga adalah sesuatu yang abstrak, maka agar lebih mudah dicerna dan tangkap maka digambarkanlah dengan hal-hal yang konkret.
3. Hakekat surga bukanlah sebuah tempat tetapi keadaan; suatu keadaan yang sangat menyenangkan atau ultimate saticfaction, suatu kenikamatan tiada tara, tiada banding dan tak akan pernah terbayangkan.
Endnote

[1]QS. Al-Sajadah/32:17
[2]Muslim Ibn Hajjāj al-Naisabūri, Shahih Muslim, Juz VI, (Bairūt: Dār Ihyā’ al-Kutub al-‘Arabi), h. 2175
[3]Abū al-Husain Ahmad Ibn Fāris, Mu’jam Maqāyīs al-Lugah, (Bairūt: Dār al Fikr), h.201
[4]Al-Rāgib al-Ashfahāni, Mufradat Alfādz al-Qur’an, (Bairūt: al-Dār al-Syāmiyat), hh. 203-205, lihat pula Muhammad Ibn Mandzūr, Lisān al-Arab, Juz XIII,(Bairūt: Dār SHādir), h.95
[5]Muhammad Fu’ad al-Bāqi, Mu’jam al-Mufahras Li Alfādz al-Qur’ān al-Karīm, (Bairūt: Dār al-Fikr), hh. 229-232
[6]QS. Al-Baqarah/2: 265
[7]QS. Al-An‘ām/6: 99
[8]QS. Al-An‘ām/ 6: 141
[9]QS. Al-Ra‘ad/13: 4
[10]QS. Al-Kahf/18: 33
[11]QS. Al-Mu’minūn/23: 16
[12]Surga adalah alam akhirat yg membahagiakan roh manusia yg hendak tinggal didalamnya (dalam keabadian); 2 kayangan tempat kediaman Batara Guru (Siwa);Surgaloka, Tim Redaksi Kamus Bahasa Indonesia, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta:Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional), h. 1567.
[13]QS. Al-Baqarah/2: 25
[14]QS. Al-Baqarah/2: 82
[15]QS. Al-Baqarah/ 2: 111
[16]QS. Āli ‘Imrān/3: 133
[17]QS. Al-A’rāf/7: 88
[18]QS. Ibrāhim/14: 23
[19]Lihat pula Ahmad Kālu, Asmā’ al-Jannah fi al-Qur’an, (http://www.w3.org/1999/xhtml, diakses tanggal, 10 Januari 2009)
[20]QS. Fāthir/35: 35
[21]QS. Al-Ahzāb/33: 51
[22]QS. Al-Sajadah/32: 19
[23]QS. SHād/38: 50
[24]QS. Luqmān/31: 8
[25]QS. Al-An‘ām/6: 127
[26]QS. Al-Mu’minūn/23: 11
[27]QS. Al-Furqān/25: 15
[28]QS. Yūnus/10: 2
[29]al-Zamakhsyarī, al-Kasysyāf, Juz III,( Riyādh: Maktabah al-‘Abīkan), h. 114.
[30]QS. ²li Imran/3: 133
[31]ٍQS. Muhammad/47: 54
[32] من بنى مسجدا لله تعالى بنى الله له بيتا فى الجنة , Muslim, op. cit, Juz I, h. 378
[33]QS. Al-Zumar /39: 20
[34]QS. Al-Shaff/61: 12
[35]QS. Al-Rahmān/55: 54
[36]QS. Al-Thūr/52:20
[37]QS. Al-Zukhruf/43: 81
[38]QS. Al-Insān/76: 15
[39]QS. Yāsīn/36: 56
[40]QS. Al-Baqarah/2: 25
[41]QS. Al-Wāqiah/56: 20-21
[42]QS. Al-Wāqiah/56: 32-33
[43]QS. Al-Insān/76: 17-18
[44]QS. Al-Wāqiah/56: 22-23. Menurut Quraish Shihab “Menerjemahkan kata حور عين dengan bidadari telah menimbulkan kerancuan di kalangan sementara kaum muslim. Kata bidadari dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti dewi dari kayangan, dan perempuan yang elok berasal dari kata vidyadari yang dalam konsep Hinduisme mengandung makna pemuasan syahwat. Pengertian tersebut tidak sepenuhnya dikandung oleh kata حور عين. Dari segi bahasa kata حور عين terdiri dari kata حور yang merupakan jamak dari kata حوراء (jenis feminim) dan أحور (jenis maskulin). Makna حور adalah bulat, ada pula yang mengartikan dengan sipit sedangkan عين adalah jamak dari عيناء dan عين yang berarti bermata besar dan indah. Dengan demikian menerjemahkan حور عين dengan bidadari tidaklah tepat karena kata tersebut bersifat netral; bisa laki-laki bisa pula perempuan. Lihat Quraish Shihab, Mukjizat al-Qur’an Ditinjau Dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Gaib, (Bandung:Mizan), h.103-104.
[45]QS. Shād/38: 52
[46]QS. Al-Shaffāt/37: 48-49
[47]QS. Al-Rahmān/55: 56
[48]QS. Al-Wāqi‘ah/56: 17-18
[49]QS. Al-Thūr/52: 24
[50]QS. Al-Insān/ 76:
[51]Lihat pula Was{f al-Jannah fi al-Qur’an wa al-Sunnah (CD al-Maktabah al-Syāmilah V.2),
[52]QS. Maryam/19: 40
[53]QS. Al-Fath/48: 17
[54]QS. Al-Nisā’/4: 124
[55]QS. Al-Insān/76: 12
[56]QS. Al-Taubah/9: 111
[57]QS. Al-Nāziat/79: 40-41
[58]QS. Fushshilat/41: 30
[59]QS. Al-Baqarah/2: 35-36
[60]Lihat Abū Hayyān al-Andalūsi, al-Bahr al-Muhīth, Juz. I, (Bairūt: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah), h.308
[61]Muhammad ‘Abduh Tafsīr Al-Manār, Juz I,(Kairo: Dār al-Manār, Cet II, 1948), h. 278
[62]QS. Hūd/11: 48, Terjemahannya: dikatakan “Wahai Nuh turunlah dengan selamat”
[63]Lebih lanjut lihat Muhammad ‘Abduh op. cit., h.262
[64]Al-Qura’an menggunakan kata lisan (lidah) yang merupakan bagian dari alat ucap, mengapa tidak menggunakan gigi atau gusi misalnya padahal keduanya juga adalah alat ucap. Boleh jadi hal ini menggambarkan bahwa Al-Qura’n itu elastis sesuai dengan tingkat pemahaman pendengarnya atau dapat disesuaikan dengan keadaan.

Merindukan Ramadhan

Seperti seorang kekasih, selalu diharap-harap kedatangannya. Rasanya tak ingin berpisah sekalipun cuma sedetik. Begitulah Ramadhan seperti digambarkan sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, “Andaikan tiap hamba mengetahui apa yang ada dalam Ramadhan, maka ia bakal berharap satu tahun itu puasa terus.” Sesungguhnya, ada apa di dalam Ramadhan itu,

1. Gelar taqwa

Taqwa adalah gelar tertinggi yang dapat diraih manusia sebagai hamba Allah. Tidak ada gelar yang lebih mulia dan tinggi dari itu. Maka setiap hamba yang telah mampu meraih gelar taqwa, ia dijamin hidupnya di surga dan diberi kemudahan-kemudahan di dunia. Dan puasa adalah sarana untuk mendapatkan gelar taqwa itu. “Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”(QSal-Baqarah: 183). Kemudahan-kemudahan yang diberikan Allah kepada hambanya yang taqwa, antara lain:
  1. Jalan keluar dari semua masalah
    Kemampuan manusia amat terbatas, sementara persoalan yang dihadapi begitu banyak. Mulai dari masalah dirinya, anak, istri, saudara, orang tua, kantor dan sebagainya. Tapi bila orang itu taqwa, Allah akan menunjukkan jalan berbagai persoalan itu. Bagi Allah tidak ada yang sulit, karena Dialah pemilik kehidupan ini.”…Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath Thalaaq: 2),”…Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.”(QS. Ath Thalaaq:4)
  2. Dicukupi kebutuhannya
    “Dan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya….”(QS. Ath Thalaaq: 3)
  3. Ketenangan jiwa, tidak khawatir dan sedih hati Bagaimana bisa bersedih hati, bila di dalam dadanya tersimpan Allah.
    Ia telah menggantungkan segala hidupnya kepada Pemilik kehidupan itu sendiri. Maka orang yang selalu mengingat-ingat Allah, ia bakal memperoleh ketenangan.
    “Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-KU, maka barangsiapa bertaqwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. al-A’raaf: 35)

2. Bulan pengampunan

Tidak ada manusia tanpa dosa, sebaik apapun dia. Sebaik-baik manusia bukanlah yang tanpa dosa, sebab itu tidak mungkin. Manusia yang baik adalah yang paling sedikit dosanya, lalu bertobat dan berjanji tidak mengulangi perbuatan dosa itu lagi. Karena dosa manusia itu setumpuk, maka Allah telah menyediakan alat penghapus yang canggih. Itulah puasa pada bulan Ramadhan. Beberapa hadis menyatakan demikian, salah satunya diriwayatkan Bukhari Muslim dan Abu Dawud,
“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena keimanannya dankarena mengharap ridha Allah, maka dosa-dosa sebelumnya diampuni.”

3. Pahalanya dilipatgandakan

Tidak hanya pengampunan dosa, Allah juga telah menyediakan bonus pahala berlipat-lipat kepada siapapun yang berbuat baik pada bulan mulia ini. Rasulullah bersabda,
“Setiap amal anak keturunan Adam dilipatgandakan. Tiap satu kebaikan sepuluh lipat gandanya hingga tujuh ratus lipat gandanya.” (HR. Bukhari Muslim).
“Bahkan amalan-amalan sunnah yang dikerjakan pada Ramadhan, pahalanya dianggap sama dengan mengerjakan amalan wajib” (HR. Bahaiqi dan Ibnu Khuzaimah).
Maka perbanyaklah amal dan ibadah, mumpung Allah menggelar obral pahala.

4. Pintu surga dibuka dan neraka ditutup

“Kalau datang bulan Ramadhan terbuka pintu surga, tertutup pintu neraka, dan setan-setan terbelenggu.”(HR Muslim).
Kenapa pintu surga terbuka? Karena sedikit saja amal perbuatan yang dilakukan, bisa mengantar seseorang ke surga. Boleh diibaratkan, bulan puasa itu bulan obral. Orang yang tidak membeli akan merugi. Amal sedikit saja dilipatgandakan ganjarannya sedemikian banyak. Obral ganjaran itu untuk mendorong orang melakukan amal-amal kebaikan di bulan Ramadhan. Dengan demikian otomatis pintu neraka tertutup dan tidak ada lagi kesempatan buat setan menggoda manusia.

5. Ibadah istimewa

Keistimewaan puasa ini dikatakan Allah lewat hadis qudsinya,
“Setiap amalan anak Adam itu untuk dirinya, kecuali puasa. Itu milik-Ku dan Aku yang membalasnya karena ia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.” (HR Bukhari Muslim).
Menurut Quraish Shihab, ahli tafsir kondang dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, puasa dikatakan untuk Allah dalam arti untuk meneladani sifat-sifat Allah. Itulah subtansi puasa.Misalnya, dalam bidang jasmani, kita tahu Tuhan tidak beristri. Jadi ketika berpuasa dia tidak boleh melakukan hubungan seks. Allah tidak makan, tapi memberi makan. Itu diteladani, maka ketika berpuasa kita tidak makan, tapi kita memberi makan. Kita dianjurkan untuk mengajak orang berbuka puasa.Ini tahap dasar meneladani Allah. Masih ada tahap lain yang lebih tinggi dari sekedar itu. Maha Pemurah adalah salah satu sifat Tuhan yang seharusnya juga kita teladani.Maka dalam berpuasa, kita dianjurkan banyak bersedekah dan berbuat kebaikan. Tuhan Maha Mengetahui. Maka dalam berpuasa, kita harus banyak belajar. Belajar bisa lewat membaca al-Qur’an, membaca kitab-kitab yang bermanfaat, meningkatkan pengetahuan ilmiah. Allah swt setiap saat sibuk mengurus makhluk-Nya. Dia bukan hanya
mengurus manusia. Dia juga mengurus binatang. Dia mengurus semut. Dia mengurus rumput-rumput yang bergoyang. Manusia yang berpuasa meneladani Tuhan dalam sifat-sifat ini, sehingga dia harus selalu dalam kesibukan. Perlu ditekankan meneladani Tuhan itu sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia. Kita tidak mampu untuk tidak tidur sepanjang malam, tidurlah secukupnya. Kita tidak mampu untuk terus-menerus tidak makan dan tidak minum. Kalau begitu, tidak makan dan tidak minum cukup sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari saja.

6. Dicintai Allah

Nah, sesesorang yang meneladani Allah sehingga dia dekat kepada-Nya. Bila sudah dekat, minta apa saja akan mudah dikabulkan. Bila Allah telah mencintai hambanya, dilukiskan dalam satu hadis Qudsi,
“Kalau Aku telah mencintai seseorang, Aku menjadi pendengaran untuk telinganya, menjadi penglihatan untuk matanya, menjadi pegangan untuk tangannya, menjadi langkah untuk kakinya.” (HR Bukhari)

7. Do’a dikabulkan

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, katakanlah bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang berdo’a apabila dia berdo’a, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku.” (QS.al-Baqarah: 186).
Memperhatikan redaksi kalimat ayat di atas, berarti ada orang berdo’a tapi sebenarnya tidak berdo’a. Yaitu do’anya orang-orang yang tidak memenuhi syarat. Apa syaratnya? “maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku.”
Benar, berdo’a pada Ramadhan punya tempat khusus, seperti dikatakan Nabi saw, “Tiga do’a yang tidak ditolak; orang berpuasa hingga berbuka puasa, pemimpin yang adil dan do’anya orang teraniaya. Allah mengangkat do’anya ke awan dan membukakan pintu-pintu langit. ‘Demi kebesaranKu, engkau pasti Aku tolong meski tidak sekarang.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)
Namun harus diingat bahwa segala makanan yang kita makan, kesucian pakaian, kesucian tempat, itu punya hubungan yang erat dengan pengabulan do’a. Nabi pernah bersabda, ada seorang yang sudah kumuh pakaiannya, kusut rambutnya berdo’a kepada Tuhan. Sebenarnya keadaannya yang kumuh itu bias mengantarkan do’anya dia diterima. Tapi kalau makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya yang dipakainya terambil dari barang yang haram, bagaimana bisa dikabulkan doa’nya? Jadi do’a itu berkaitan erat dengan kesucian jiwa, pakaian dan makanan. Di bulan Ramadhan jiwa kita diasah hingga bersih. Semakin bersih jiwa kita, semakin tulus kita, semakin bersih tempat, pakaian dan makanan, semakin besar kemungkinan untuk dikabulkan do’a.

8. Turunnya Lailatul Qodar

Pada bulan Ramadhan Allah menurunkan satu malam yang sangat mulia. Saking mulianya Allah menggambarkan malam itu nilainya lebih dari seribu bulan (QS. al-Qadr). Dikatakan mulia, pertama lantaran malam itulah awal al-Qur’an diturunkan. Kedua, begitu banyak anugerah Allah dijatuhkan pada malam itu. Beberapa hadits shahih meriwayatkan malam laulatul qodar itu jatuh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Seperti dirawikan Imam Ahmad,
“Lailatul qadar adalah di akhir bulan Ramadhan tepatnya di sepuluh terakhir, malam keduapuluh satu atau duapuluh tiga atau duapuluh lima atau duapuluh tujuh atau duapuluh sembilan atau akhir malam Ramadhan. Barangsiapa mengerjakan qiyamullail (shalat malam) pada malam tersebut karena mengharap ridha-Ku, maka diampuni dosanya yang lampau atau yang akan datang.”
Mengapa ditaruh diakhir Ramadhan, bukan pada awal Ramadhan? Rupanya karena dua puluh malam sebelumnya kita mengasah dan mengasuh jiwa kita. Itu adalah suatu persiapan untuk menyambut lailatul qodar. Ada dua tanda lailatul qadar. Al Qur’an menyatakan,
“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat JIbril dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan/kedamaian sampai terbit fajar.” (QS al-Qadr: 4-5)
Malaikat bersifat gaib, kecuali bila berubah bentuk menjadi manusia. Tapi kehadiran malaikat dapat dirasakan. Syekh Muhammad Abduh menggambarkan,
“Kalau Anda menemukan sesuatu yang sangat berharga, di dalam hati Anda akan tercetus suatu bisikan, ‘Ambil barang itu!’ Ada bisikan lain berkata, ‘Jangan ambil, itu bukan milikmu!’ Bisikan pertama adalah bisikan setan. Bisikan kedua adalah bisikan malaikat.”
Dengan demikian, bisikan malaikat selalu mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal positif. Jadi kalau ada seseorang yang dari hari demi hari sisi kebajikan dan positifnya terus bertambah, maka yakinlah bahwa ia telah bertemu dengan lailatul qodar.

9. Meningkatkan kesehatan

Sudah banyak terbukti bahwa puasa dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya, dengan puasa maka organ-organ pencernaan dapat istirahat. Pada hari biasa alat-alat pencernaan di dalam tubuh bekerja keras. Setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh memerlukan proses pencernaan kurang lebih delapan jam.
Empat jam diproses di dalam lambung dan empat jam di usus kecil (ileum). Jika malam sahur dilakukan pada pukul 04.00 pagi, berarti pukul 12 siang alat pencernaan selesai bekerja. Dari pukul 12 siang sampai waktu berbuka, kurang lebih selama enam jam, alat pencernaan mengalami istirahat total. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Berdasarkan penelitian yang dilakukan para ahli kesehatan, ternyata dengan berpuasa sel darah putih meningkat dengan pesat sekali. Penambahan jumlah sel darah putih secara otomatis akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Menghambat perkembangan atau pertumbuhan bakteri, virus dan sel kanker.
Dalam tubuh manusia terdapat parasit-parasit yang menumpang makan dan minum. Dengan menghentikan pemasukan makanan, maka kuman-kuman penyakit seperti bakteri-bakteri dan sel-sel kanker tidak akan bisa bertahan hidup. Mereka akan keluar melalui cairan tubuh bersama sel-sel yang telah mati dan toksin. Manfaat puasa yang lain adalah membersihkan tubuh dari racun kotoran dan ampas, mempercepat regenasi kulit, menciptakan keseimbangan elektrolit di dalam lambung, memperbaiki fungsi hormon, meningkatkan fungsi organ reproduksi, meremajakan atau mempercepat regenerasi sel-sel tubuh, meningkatkan fungsi fisiologis organ tubuh, dan meningkatkan fungsi susunan syaraf.

10. Penuh harapan

Saat berpuasa, ada sesuatu yang diharap-harap. Harapan itu kian besar menjelang sore. Sehari penuh menahan lapar dan minum, lalu datang waktu buka, wah… rasanya lega sekali. Alhamdulillah. Itulah harapan yang terkabul. Apalagi harapan bertemu Tuhan, masya’ Allah, menjadikan hidup lebih bermakna.
“Setiap orang berpuasa selalu mendapat dua kegembiraan, yaitu tatkala berbuka puasa dan saat bertemu dengan Tuhannya.” (HR. Bukhari).

11. Masuk surga melalui pintu khusus, Rayyaan

“Sesungguhnya di surga itu ada sebuah pintu yang disebut rayyan yang akan dilewati oleh orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat nanti, tidak diperbolehkan seseorang melewatinya selain mereka. Ketika mereka dipanggil, mereka akan segera bangkit dan masuk semuanya kemudian ditutup.” (HR.Bukhari)

12. Minum air telaganya Rasulullah saw

“Barangsiapa pada bulan Ramadhan memberi makan kepada orang yang berbuka puasa, maka itu menjadi ampunan bagi dosa-dosanya, dan mendapat pahala yang sama tanpa sedikit pun mengurangi pahala orang lain. Mereka (para sahabat) berkata, ‘Wahai Rasulullah, tidak setiap kami mempunyai makanan untuk diberikan kepada orang yang berbuka puasa.’ Beliau berkata, ‘Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi buka puasa meski dengan sebutir kurma, seteguk air, atau sesisip susu…Barangsiapa memberi minum orang yang berpuasa maka Allah akan memberinya minum seteguk dari telagak dimana ia tidak akan haus hingga masuk surga.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi)

13. Berkumpul dengan sanak keluarga

Pada tanggal 1 Syawal ummat Islam merayakan Hari Raya Idhul Fitri. Inilah hari kemenangan setelah berperang melawan hawa nafsu dan syetan selama bulan Ramadhan. Di Indonesia punya tradisi khusus untuk merayakan hari bahagia itu yang disebut Lebaran. Saat itu orang ramai melakukan silahtuhrahim dan saling memaafkan satu dengan yang lain. Termasuk kerabat-kerabat jauh datang berkumpul. Orang-orang yang bekerja di kota-kota pulang untuk merayakan lebaran di kampung bersama kedua orang tuanya. Maka setiap hari Raya selalu terjadi pemandangan khas, yaitu orang berduyun-duyun dan berjubel-jubel naik kendaraan mudik ke kampung halaman.
Silahturahim dan saling memaafkan itu menurut ajaran Islam bisa berlangsung kapan saja. Tidak mesti pada Hari Raya. Tetapi itu juga tidak dilarang. Justru itu momentum bagus. Mungkin, pada hari biasa kita sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga tidak sempat lagi menjalin hubungan dengan tetangga dan saudara yang lain. Padahal silahturahim itu dianjurkan Islam, sebagaimana dinyatakan hadis,
“Siapa yang ingin rezekinya dibanyakkan dan umurnya dipanjangkan, hendaklah ia menghubungkan tali silaturahmi!” (HR.Bukhari)

14. Qaulan tsaqiilaa

Pada malam Ramadhan ditekankan (disunnahkan) untuk melakukan shalat malam dan tadarus al-Qur’an. Waktu paling baik menunaikan shalat malam sesungguhnya seperdua atau sepertiga malam terakhir (QS Al Muzzammil:3).
Tetapi demi kesemarakan syiar Islam pada Ramadhan ulama membolehkan melakukan terawih pada awal malam setelah shalat isya’ dengan berjamaah di masjid. Shalat ini populer disebut shalat tarawih.
Shalat malam itu merupakan peneguhan jiwa, setelah siangnya sang jiwa dibersihkan dari nafsu-nafsu kotor lainnya. Ditekankan pula usai shalat malam untuk membaca Kitab Suci al-Qur’an secara tartil (memahami maknanya). Dengan membaca Kitab Suci itu seseorang bakal mendapat wawasan-wawasan yang luas dan mendalam, karena al-Qur’an memang sumber pengetahuan dan ilham.
Dengan keteguhan jiwa dan wawasan yang luas itulah Allah kemudian mengaruniai qaulan tsaqiilaa (perkataan yang berat). Perkataan-perkataan yang berbobot dan berwibawa. Ucapan-ucapannya selalu berisi kebenaran. Maka orang-orang yang suka melakukan shalat malam wajahnya bakal memancarkan kewibawaan.

15. Hartanya tersucikan

Setiap Muslim yang mampu pada setiap Ramadhan diwajibkan mengeluarkan zakat. Ada dua zakat, yaitu fitrah dan maal. Zakat fitrah besarnya 2,5 kilogram per orang berupa bahan-bahan makanan pokok. Sedangkan zakat maal besarnya 2,5 persen dari seluruh kekayaannya bila sudah mencapai batas nisab dan waktunya. Zakat disamping dimaksudkan untuk menolong fakir miskin, juga guna mensucikan hartanya. Harta yang telah disucikan bakal mendatangkan barakah dan menghindarkan pemiliknya dari siksa api neraka. Harta yang barakah akan mendatangkan ketenangan, kedamaian dan kesejahteraan. Sebaliknya, harta yang tidak barakah akan mengundang kekhawatiran dan ketidaksejahteraan.

InsyaAlloh hidup akan di mudahkan

Marilah kita bersama-sama taqwa kepada Allah, taqwa dalam erti menjalankan segala perintah-perintahNYa dan meninggalkan segala larangan-laranganNya. Taqwa yang benar-benar taqwa; taqwa yang dapat menumbuhkan sifat dan sikap suka tolong menolong; tolong menolong terhadap usaha-usaha kebajikan dan ketaqwaan.

Seseorang yang suka menolong dalam melakukan sesuatu pekerjaan yang dipandang kebajikan, dirinya selalu disenangi manusia, sebagaimana apabila seseorang membuktikan taqwanya kepada Allah, maka orang itupun mendapatkan keredhaan Allah. Maka seseorang yang dapat mengumpulkan dua faktor ini, yakni orang yang selalu disenangi manusia dan mendapat keredhaan Allah, maka orang itu memperolehi kebahagiaan yang sempurna.

Islam amat menggalakkan agar setiap muslim berlaku ikhlas terhadap kerabatnya; ikhlas terhadap tetangganya; ikhlas terhadap orang-orang yang mempunyai hubungan kerja dengan kita. Islam juga menghendaki supaya kita memberikan bantuan yang patut di kala perlu dan berusaha menghasilkan manfaat kepada masyarakat.

Dengan cara hidup semacam ini, akan mekarlah rasa berkasih-kasihan, sayang menyayangi kepada sesama kita dan bersemangatlah hasrat bantu membantu, tumbuhlah sikap tolong menolong terhadap kebaktian dan ketaqwaan.

Amalkanlah sikap tolong menolong dengan penuh keikhlasan kerana Allah semata-mata dan kerana mencari keredhaanNya. Allah berfirman dalam Al-Quran:


Maksud: “Bertolong-tolonglah kamu dalam berbuat kebajikan dan taqwa dan janganlah kamu bertolong-tolongan dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (Al-Maidah:2)


Manusia di dunia ini tidak dapat hidup berdiri sendiri. Manusia hidup di dunia perlu tunjang menunjang. Oleh kerana itu hindarilah rasa dan sikap hidup yang hanya mementingkan untuk memperoleh keuntungan diri sendiri. Apabila manusia telah dihinggapi oleh rasa ingin hidup sendiri; rasa ingin untung sendiri, maka hilanglah sifat keutamaan manusia. Manusia demikian akan terkepung dalam ruang lingkup yang sempit. Dia tidak dapat lagi melihat orang lain kecuali hanya dirinya sendiri.

Sesungguhnya, agama Islam amat menitikberatkan soal ukhuwwah dan mengajarkan manusia bahawa kehidupan ini bukan hanya untuk diri sendiri sahaja. Cubalah kita rasakan kesakitan dan penderitaan yang dialami oleh orang lain. Itulah yang mendorong kita untuk turut serta menghilangkan penderitaan saudara kita sendiri. Dan dalam keadaan yang demikian, hati kita tidak akan merasa tenang sebelum penderitaan itu lenyap dari diri saudara kita. Sebaliknya hati kita akan merasa tenang dan tenteram, setelah kita berhasil menghilangkan penderitaannya dan melihat mereka dalam keadaan sihat dan sejahtera kembali.

Rasulullah s.a.w. bersabda:


“Seorang Muslim itu menjadi saudara muslim lainnya, kerana itu tidak diperbolehkan seorang Muslim menganiaya akan saudaranya, juga tidak boleh seorang muslim itu menghina saudara muslim lainnya. Dan barangsiapa memberikan pertolongan (memenuhi hajat keperluan saudaranya), maka Allah pun memenuhi dan menyelesaikan segala keperluan hajatnya. Dan barangsiapa yang memberikan kemudahan / memberikan kelapangan bagi kesusahan seseorang Muslim, nescaya Allah melapangkan kesusahannya di hari kiamat.”

(Riwayat Bukhari)

Dalam hadith ini dinyatakan, bahawa orang Islam dipandang sebagai saudara antara satu sama lain. Maka persaudaraan itu mengehendaki supaya masing-masing, tidak boleh menganiayai akan yang lain, dan tidak boleh bersikap membiarkan saudaranya dalam kebinasaan. Kerana itu apabila kita dapati seseorang menderita kelaparan, wajiblah kita menolongnya untuk melepaskan dirinya dari penderitaan yang menimpanya.


Ingatlah bahawa kita ini merupakan manusia ciptaan Allah. Setiap orang pasti memerlukan bantuan, sama ada daripada manusia sendiri ataupun dari Penciptanya. Hanya Allah sahaja yang tidak memerlukan bantuan dari sesiapa pun.
Adanya orang kaya dan orang miskin, orang berpangkat besar dan dan berpangkat rendah, orang pandai dan orang yang jahil. Perbezaan ini adalah rahmat Allah s.w.t. untuk menjadikan kita saling bantu membantu dan perlu-memerlukan supaya wujud sebuah jemaah atau masyarakat yang saling tolong menolong. Perbezaan kebolehan bukan untuk dipertandingkan atau untuk menyombongkan diri atau untuk berbangga-bangga dan berkecil hati serta berhasad dengki. Ia adalah untuk sumbang menyumbang, saling memberi dan menerima dan seterusnya agar masing-masing merasa dirinya diperlukan, dihormati dan dikasihi.

Allah berfirman dalam surah Al-Isra ayat 37:


“Janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong kerana kekuatanmy tidak dapat membelah bumi dan ketinggianmu tidak dapat menyamai bukit.”

Walau sehebat mana pun keadaan seseorang itu, pasti dia memerlukan jasa orang lain. Sehina mana pun seseorang, pasti dia sudah berbudi kepada orang lain. Ertinya, setiap orang ada nilai dan harga dirinya di sisi orang lain. Maka janganlah kita menjadi umat yang menyebabkan timbulnya hina menghina dan pecah belah sesama kita. Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah satu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (kerana) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) itu lebih baik daripada mereka yang mengolok-olokkan, dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (kerana) boleh jadi wanita yang diperolokkan-olokkan lebih baik daripada wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelaran yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah panggilan yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang yang zalim.

(Al-Hujurat : 11)

Di antara tanda-tanda terjalinnya hubungan sesama muslim; sesama hamba Allah yang mampu dan yang tidak mampu, adalah ketika adanya perasaan senang memberikan manfaat kepada saudara-saudaranya. Juga jika adanya perasaan senang dan gembira melihat mereka mendapat nikmat dan kebaikan, bagaikan kita sendiri yang memperolehinya.

Apabila perasaan yang semacam ini telah tertanam dalam hati kita, maka tidak akan timbul lagi perasaan pentingkan diri sendiri. Apabila kita melihat orang lain menderita kita juga akan terasa sama penderitaan yang dia alami. Seperti kata pepatah, cubit paha kanan, paha kiri akan terasa juga. Kita akan sentiasa bersedia untuk menghulurkan bantuan kepada orang yang memerlukan. Tidak kira samada bantuan dalam bentuk material, fizikal ataupun dengan kata-kata yang manis.

Nabi s.a.w. bersabda:


”Barangsiapa yang suka memberikan kemudahan kepada orang yang sedang dalam kesempitan, maka Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan akhirat.”


Ketahuilah sidang muslimin yang dirahmati Allah,

Bahawasanya setiap amal kebaikan dan kebajikan yang kita laksanakan di dunia ini telah dijanjikan ganjaran yang setimpal di akhirat kelak. Ini termasuklah jika kita menghilangkan penderitaan orang lain dan juga berbuat kebaikan dalam hubungan kita sesama manusia, nescaya amalan tersebut tidak menjadi sia-sia dan kehidupan kita tidak akan mengalami kerugian.

Sesungguhnya di dalam kehidupan dunia ini kita harus menitik beratkan dua aspek perhubungan. Hubungan kita sebagai hamba dengan Tuhannya, dan juga hubungan kita sesama manusia. Peliharalah ukhuwwah kita melalui amalan bantu membantu untuk kebaikan agar ia dapat menyumbang dalam pembangunan masyarakat yang bersatu dan teguh.

Monday, January 3, 2011

Blood Pressure

Kategori Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah Diastolik
Normal < 120 mmHg (dan) < 80 mmHg
Pre-hipertensi 120-139 mmHg (atau) 80-89 mmHg
Stadium 1 140-159 mmHg (atau) 90-99 mmHg
Stadium 2 >= 160 mmHg (atau) >= 100 mmHg